TUGAS KELOMPOK VIII
MENGIDENTIFIKASI KEBERAGAMAN SASTRA
NUSANTARA KOTA KABUPATEN KAYONG UTARA
( DAERAH SUKADANA)
DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA
KULIAH SASTRA NUSANTARA
DOSEN PENGAMPU : MELIA, M. PD.
Oleh
:
EVA SRIYANINGSIH (311610102)
NUR
AMALIA (311610009)
TRISKA
SARI (311610137)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN
SASTRA INDONESIA
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
PONTIANAK
2017
KATA
PENGANTAR
Puji syukur
kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas
segala limpahan berkat dan
rahmat-Nya. Sehingga penyusunan makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sastra
Nusantara, yang diampu oleh Ibu Melia, M. Pd. Membahas
tentang keberagaman asal usul Kayong Utara.
Terimakasih
kepada teman-teman yang sudah bekerjasama dalam mengerjakan penyusunan makalah ini. Terutama kepada Ibu Melia, M.Pd. yang telah
memberikan banyak bantuan kepada kami, beupa masukan untuk mengerjakan
makalah ini.
Kami berharap semoga makalah ini dapat berguna
bagi semua pihak, khususnya bagi mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia, agar dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahamannya tentang keberagaman
kebudayaan disekitar. Kami
mengharapan kritik dan saran dari pembaca, demi perbaikan dan pengoptimalan
pembuatan makalah selajutnya.
Pontianak, Oktober 2017
Tim Penulis,
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR...................................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................................... ii
BAB I
PENDAHULUAN................................................................................................ 1
A. LATAR
BELAKANG.................................................................................... 1
B. RUMUSAN
MASALAH............................................................................... 1
C. TUJUAN........................................................................................................ 1
D.
MANFAAT..................................................................................................... 2
BAB II
PEMBAHASAN.................................................................................................. 5
A. Asal-Usul
Sukadana....................................................................................... 6
B.
Mengidentifikasi Asal-Usul Sukadana...........................................................7
BAB
III PENUTUP.......................................................................................................... 8
A.
KESIMPULAN.............................................................................................. 9
B. SARAN.......................................................................................................... 9
DAFTAR
PUSTAKA....................................................................................................... 10
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Cerita rakyat adalah cerita pada masa
lampau yang menjadi ciri khas setiap bangsa yang memiliki kultur budaya yang
beraneka ragam mencakup kekayaan budaya dan saejarah yang dimilki masing-masing
bangsa.
Ada
beberapa pengertian mengenai arti kata dari legenda yang dikemukakan
oleh beberapa ahli legenda (latin legere) adalah cerita prosa rakyat yang
dianggap oleh empunya cerita sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi.
B.
Rumusan Masalah
1.
Menceritakan asal-usul Sukadana !
2.
Bagaimana cara mengidentifikasi asal usul Sukadana tersebut?
C. Tujuan
Adapun tujuan makalah ini adalah agar makalah ini bisa di jadikan referensi dan
Adapun tujuan makalah ini adalah agar makalah ini bisa di jadikan referensi dan
pedoman bagi pembaca. Dan bisa membantu masyarakat
sekitar untuk berbagi cerita keberagaman asal-usul didaerah sekitar.
D. Manfaat
Manfaat yang diharapkan dalam penulisan makalah ini adalah Penulis dan pembaca dapat memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang legenda asal-usul Sukadana dan bisa menceritakan kepada orang lain dan anak cucuknya dikemudian hari.
Manfaat yang diharapkan dalam penulisan makalah ini adalah Penulis dan pembaca dapat memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang legenda asal-usul Sukadana dan bisa menceritakan kepada orang lain dan anak cucuknya dikemudian hari.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Asal-Usul
Sukadana
Ada sebuah kampung besar berpenduduk
banyak. Akan tetapi, kampung itu belum bernama. Walaupun tokoh-tokoh masyarakat
sudah berkali-kali mengadakan rapat. Mereka belum sepakat dengan nama-nama yang
diusulkan.
Penduduk kampung itu bertambah
setiap hari karena banyaknya kaum pendatang dari daerah Palembang.
Di pinggir kampung, tinggallah
sepasang suami istri dan seorang anak mereka bernama Agus Sulaiman. Nama itu
jelas menunjukkan bahwa keluarga itu berasal dari daerah Palembang. Ayah Ki
Agus Sulaiman bernama Ki Badaruddin dan ibunya bernama Cik Hamidah. Mereka
sudah tidak sanggup lagi menghadapi Ki Agus Sulaiman.
Ki Agus Sulaiman memang anak
pemalas. Kerjanya tiap hari hanya bermain gitar, jika punya uang atau makanan,
ia bagikan kepadan orang lain, padahal orang tuanya miskin. Akan tetapi, apa
hendak dibuat oleh orang tua Ki Agus Sulaiman, anaknya adalah anak tunggal.
Semua kemauannya dituruti.
Menurut cerita, Ki Agus Sulaiman mempunyai dua buah
rebana, gitar, dan sebuah suling. Sambil bernyanyi, ia bunyikan alat-alat musik
itu dengan serius. Bila sudah menyanyi, ia lupa makan, tidur, atau membantu
orang tuanya. Bahkan, ia akan memberikan uang pemberian orang tuanya kepada
orang lain.
Pada suatu hari, para tokoh kampung duduk di sebuah
balai pertemuan membicarakan kampung mereka yang sudah berbulan-bulan belum
juga berhasil diberi nama. Tiba-tiba Ki Agus Sulaiman masuk ke balai pertemuan
kampung. Dengan tangkas ia menyanyikan beberapa lagu dan memainkan rebananya. Tokoh
masyarakat yang hadir pada waktu itu terpaku mendengar suara Ki Agus Sulaiman.
Apalag alat musik yang dimainkannya sangat sesuai dengan alunan lagu yang
didengarkan.
Rakyat biasa tidak berani masuk ke ruang balai
pertemuan kampung, kecuali para tokoh terkenal. Akan tetapi, Ki Agus Sulaiman
tidak mau tau masalah itu. Setelag bernyanyi, ia pun pergi. Ketika para tokoh
masyarakat masih terpaku, ia sudah bernyanyi di jalan-jalan kampung. Ia diikuti
oleh anak-anak yang senang mendengarkan nyanyiannya. Dari jauh tampak ibu Ki
Agus Sulaiman menyusulnya sambil membawa ranting kayu.
“Ayo, ayo pulang, Nak !’’ pinta ibunya.
“Nanti, Bu. Agus masih mau bernyanyi untuk anak-anak
kampung kita,’’ kata Ki Agus Sulaiman. Ibunya tetap menarik tangan anaknya.
Di perjalanan, ibunya mengatakan bahwa perbuatan Agus
memasuki balai pertemuan akan membahayakan keluarga, “karena sejak zaman nenek
moyang kita, kecuali tokoh kampung yang berilmu tinggi, tidak boleh masuk
kesana,’’ kata ibu Ki Agus Sulaiman. Kata-kata ibunya diremehkan Agus,
panggilan akrab Ki Agus Sulaiman.
“Bu, Agus kesana untuk menghibur, karena Agus tahu
Bapak-bapak kita itu sedang kacau pikirannya!” jelas Agus dengan manja kepada
ibunya.
Walaupun niatmu baik, tetap tak boleh. Kita pasti akan
dihukum!” ujar ibu Agus. Ibu dan anak itu pun pulang ke rumah. Tidak ada
kata-kata yang mereka ucapkan selama dalam perjalanan.
Sejak peristiwa itu, kampung Ki Agus Sulaiman gempar.
Akan tetapi, tidak ada orang yang menghukumnya sebagaimana orang lain memasuki
balai pertemuan. Setelah berlalu sekitar tiga bulan, datanglah utusan tokoh
masyarakat ke rumah orang tua Agus. Orang tua Agus sangat takut didatangi
utusan tokoh kampung mereka.
“Tuan, apa kesalahan kami sehingga tuan datang ke
gubuk kecil ini?” tanya ayah Agus.
Utusan itu berkata, “kami diutus untuk memberitahu
Ibu, Bapak, dan Nak Agus, agar besok pagi datang ke balai pertemuan!”.
Mendadak wajah ayah dan ibu Agus pucat. Setelah utusan
itu kembali, anak beranak Ki Badaruddin diam membisu. Mereka yakin akan
menerima hukuman.
Keesokan harinya, dengan perasaan takut, Ki
Badaruddin, istrinya, serta Ki Agus Sulaiman berangkat menuju balai pertemuan.
Kedatangan mereka sudah ditunggu para tokoh masyarakat. Setelah dipersilahkan
masuk, rapat pun dimulai. Sementara ayah dan ibu Agus diam tidak bergerak
sedikitpun, Ki Agus Sulaiman malah senyum-senyum.
“Saudara-saudara, hari ini adalah hari bersejarah bagi
kampung kita. Sebab, hari ini kita telah memutuskan sebuah nama kampung kita
setelah melalui rapat yang cukup lama.’’ Seorang tokoh bertubuh tinggi besar
dan bersuara berat membuka rapat pagi itu, tokoh-tokoh lain diam saja. Ki
Badaruddin dan istrinya gelisah menanti hukuman akibat ulah anak mereka.
“Setelah dipertimbangkan
dengan masak-masak, nama kampung kita adalah ....,” sambung
tokoh itu sambil memandang Ki Agus
Sulaiman. Ayah dan Ibu Ki Agus Sulaiman semakin waswas. “Nama
kampung kita adalah Sukadana, sambung tokoh itu kembali.
Orang-orang
pun hening mendengarkan keputusan nama kampung mereka. Lalu, tokoh itu
memberikan alasan kenapa mereka memilih nama Suka-dana yang terdiri dari dua
kata, yaitu karena Ki Agus Sulaiman. Ia mengatakan bahwa perbuatan Agus yang
suka menghibur orang dan memberikan uang kepada orang lain adalah perbuatan
yang sangat baik. “Oleh karena itu,” kata pemimpin itu, nama kampung ini
kita ambil dari sifat baik Nak Agus.”
Semua yang hadir
tercengang. Mereka minta restu dari Ki Agus Sulaiman. Tentu saja Ki Agus
Sulaiman merestuinya. Ia tidak menyangka, gara-gara menyanyi di balai pertemuan
dapat memberi keputusan nama kampungnya.
Sejak saat itu, kampung Ki
Agus Sulaiman disebut Sukadana Ki Agus Sulaiman menjadi tokoh masyarakat.
B. Mengidentifikasi Asal-Usul Sukadana
Kenapa asal-usul Sukadana ini
termasuk kedalam bentuk karya sastra prosa lama, berupa legenda karena legenda
merupakan cerita lama yang mengisahkan tentang riwayat terjadinya suatu tempat
atau wilayah. Dan juga belum mendapat pengaruh dari sastra atau kebudayaan
barat karya sastra, prosa lama yang
mula-mula timbul disampaikan secara lisan, dan diwariskan secara turun-menurun
oleh masyarakat sekitar, hal ini disebabkan karena belum dikenalnya bentuk
tulisan. Setelah agama dan kebudayaan islam masuk ke Indonesia, masyarkat
menjadi akrab dengan tilisan, bentuk tulisan pun mulai banyak dikenal.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Tidak dapat diingkari
lagi, cerita rakyat ini adalah karena menyangkut asal-usul kota Sukadana, yang
sekarang menjadi ibu kota kecamatan Sukadana. Masyarakat di Sukadana banyak
yang berasal dari Palembang. Kota ini sekaligus sebagai asal-usul nyanyian
pemuda-pemuda di Sukadana yang suka bernyanyi dengan rebana.
B. Saran
Sebaiknya seluruh warga masyarakat di daerah mana pun itu wajib mengetahui
asal usul daerah tempat kelahirannya. Dan alangkah lebih baiknya lagi kalau
kita tahu cerita asal usul dari daerah manapun itu karena tidak rugi kalau
mendapatkan pengetahuan itu. Dengan demikian kita bisa berbagi cerita kepada
daerah orang lain mengenai asal usul di daerah kita sendiri.
DAFTAR
PUSTAKA
Sumber : Prahara, Naim Emel. Buku
cerita rakyat dari Lampung. Jakarta: Grasindo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar