Jumat, 22 November 2019

Mengidentifikasi Ragam Sastra Kabupaten Kayong Utara - Mata Kuliah Sastra Nusantara



TUGAS KELOMPOK VIII
MENGIDENTIFIKASI KEBERAGAMAN SASTRA NUSANTARA KOTA KABUPATEN KAYONG UTARA
( DAERAH SUKADANA)
DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH SASTRA NUSANTARA
DOSEN PENGAMPU : MELIA, M. PD.
Oleh :
EVA SRIYANINGSIH      (311610102)
                                      NUR AMALIA                   (311610009)
                                      TRISKA SARI                    (311610137)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
PONTIANAK
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas segala limpahan berkat dan rahmat-Nya. Sehingga penyusunan makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sastra Nusantara, yang diampu oleh Ibu Melia, M. Pd. Membahas tentang keberagaman asal usul Kayong Utara.
Terimakasih kepada teman-teman yang sudah bekerjasama dalam mengerjakan penyusunan makalah ini. Terutama kepada Ibu Melia, M.Pd. yang telah memberikan banyak bantuan kepada kami, beupa masukan untuk mengerjakan makalah ini.
Kami berharap semoga makalah ini dapat berguna bagi semua pihak, khususnya bagi mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, agar dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahamannya tentang keberagaman kebudayaan disekitar. Kami mengharapan kritik dan saran dari pembaca, demi perbaikan dan pengoptimalan pembuatan makalah selajutnya.


Pontianak, Oktober 2017

Tim Penulis,









DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................ 1
A.    LATAR BELAKANG.................................................................................... 1
B.     RUMUSAN MASALAH............................................................................... 1
C.     TUJUAN........................................................................................................ 1
D.    MANFAAT..................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................. 5
A.    Asal-Usul Sukadana....................................................................................... 6
B.     Mengidentifikasi Asal-Usul Sukadana...........................................................7
BAB III PENUTUP.......................................................................................................... 8
A.    KESIMPULAN.............................................................................................. 9
B.     SARAN.......................................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................... 10



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
    Cerita rakyat adalah cerita pada masa lampau yang menjadi ciri khas setiap bangsa yang memiliki kultur budaya yang beraneka ragam mencakup kekayaan budaya dan saejarah yang dimilki masing-masing bangsa.
    Ada  beberapa pengertian mengenai arti kata dari legenda yang dikemukakan oleh beberapa ahli legenda (latin legere) adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh empunya cerita sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi.

B.     Rumusan Masalah
1.         Menceritakan asal-usul Sukadana !
2.         Bagaimana cara mengidentifikasi asal usul Sukadana tersebut?

C. Tujuan
         Adapun tujuan makalah ini adalah agar makalah ini bisa di jadikan referensi dan
pedoman bagi pembaca. Dan bisa membantu masyarakat sekitar untuk berbagi cerita keberagaman asal-usul didaerah sekitar.

D.    Manfaat
    Manfaat yang diharapkan dalam penulisan makalah ini adalah Penulis dan pembaca dapat memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang legenda asal-usul Sukadana dan bisa menceritakan kepada orang lain dan anak cucuknya dikemudian hari.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Asal-Usul Sukadana
            Ada sebuah kampung besar berpenduduk banyak. Akan tetapi, kampung itu belum bernama. Walaupun tokoh-tokoh masyarakat sudah berkali-kali mengadakan rapat. Mereka belum sepakat dengan nama-nama yang diusulkan.
            Penduduk kampung itu bertambah setiap hari karena banyaknya kaum pendatang dari daerah Palembang.
            Di pinggir kampung, tinggallah sepasang suami istri dan seorang anak mereka bernama Agus Sulaiman. Nama itu jelas menunjukkan bahwa keluarga itu berasal dari daerah Palembang. Ayah Ki Agus Sulaiman bernama Ki Badaruddin dan ibunya bernama Cik Hamidah. Mereka sudah tidak sanggup lagi menghadapi Ki Agus Sulaiman.
            Ki Agus Sulaiman memang anak pemalas. Kerjanya tiap hari hanya bermain gitar, jika punya uang atau makanan, ia bagikan kepadan orang lain, padahal orang tuanya miskin. Akan tetapi, apa hendak dibuat oleh orang tua Ki Agus Sulaiman, anaknya adalah anak tunggal. Semua kemauannya dituruti.
Menurut cerita, Ki Agus Sulaiman mempunyai dua buah rebana, gitar, dan sebuah suling. Sambil bernyanyi, ia bunyikan alat-alat musik itu dengan serius. Bila sudah menyanyi, ia lupa makan, tidur, atau membantu orang tuanya. Bahkan, ia akan memberikan uang pemberian orang tuanya kepada orang lain.
Pada suatu hari, para tokoh kampung duduk di sebuah balai pertemuan membicarakan kampung mereka yang sudah berbulan-bulan belum juga berhasil diberi nama. Tiba-tiba Ki Agus Sulaiman masuk ke balai pertemuan kampung. Dengan tangkas ia menyanyikan beberapa lagu dan memainkan rebananya. Tokoh masyarakat yang hadir pada waktu itu terpaku mendengar suara Ki Agus Sulaiman. Apalag alat musik yang dimainkannya sangat sesuai dengan alunan lagu yang didengarkan.
Rakyat biasa tidak berani masuk ke ruang balai pertemuan kampung, kecuali para tokoh terkenal. Akan tetapi, Ki Agus Sulaiman tidak mau tau masalah itu. Setelag bernyanyi, ia pun pergi. Ketika para tokoh masyarakat masih terpaku, ia sudah bernyanyi di jalan-jalan kampung. Ia diikuti oleh anak-anak yang senang mendengarkan nyanyiannya. Dari jauh tampak ibu Ki Agus Sulaiman menyusulnya sambil membawa ranting kayu.
“Ayo, ayo pulang, Nak !’’ pinta ibunya.
“Nanti, Bu. Agus masih mau bernyanyi untuk anak-anak kampung kita,’’ kata Ki Agus Sulaiman. Ibunya tetap menarik tangan anaknya.
Di perjalanan, ibunya mengatakan bahwa perbuatan Agus memasuki balai pertemuan akan membahayakan keluarga, “karena sejak zaman nenek moyang kita, kecuali tokoh kampung yang berilmu tinggi, tidak boleh masuk kesana,’’ kata ibu Ki Agus Sulaiman. Kata-kata ibunya diremehkan Agus, panggilan akrab Ki Agus Sulaiman.
“Bu, Agus kesana untuk menghibur, karena Agus tahu Bapak-bapak kita itu sedang kacau pikirannya!” jelas Agus dengan manja kepada ibunya.
Walaupun niatmu baik, tetap tak boleh. Kita pasti akan dihukum!” ujar ibu Agus. Ibu dan anak itu pun pulang ke rumah. Tidak ada kata-kata yang mereka ucapkan selama dalam perjalanan.
Sejak peristiwa itu, kampung Ki Agus Sulaiman gempar. Akan tetapi, tidak ada orang yang menghukumnya sebagaimana orang lain memasuki balai pertemuan. Setelah berlalu sekitar tiga bulan, datanglah utusan tokoh masyarakat ke rumah orang tua Agus. Orang tua Agus sangat takut didatangi utusan tokoh kampung mereka.
“Tuan, apa kesalahan kami sehingga tuan datang ke gubuk kecil ini?” tanya ayah Agus.
Utusan itu berkata, “kami diutus untuk memberitahu Ibu, Bapak, dan Nak Agus, agar besok pagi datang ke balai pertemuan!”.
Mendadak wajah ayah dan ibu Agus pucat. Setelah utusan itu kembali, anak beranak Ki Badaruddin diam membisu. Mereka yakin akan menerima hukuman.
Keesokan harinya, dengan perasaan takut, Ki Badaruddin, istrinya, serta Ki Agus Sulaiman berangkat menuju balai pertemuan. Kedatangan mereka sudah ditunggu para tokoh masyarakat. Setelah dipersilahkan masuk, rapat pun dimulai. Sementara ayah dan ibu Agus diam tidak bergerak sedikitpun, Ki Agus Sulaiman malah senyum-senyum.
“Saudara-saudara, hari ini adalah hari bersejarah bagi kampung kita. Sebab, hari ini kita telah memutuskan sebuah nama kampung kita setelah melalui rapat yang cukup lama.’’ Seorang tokoh bertubuh tinggi besar dan bersuara berat membuka rapat pagi itu, tokoh-tokoh lain diam saja. Ki Badaruddin dan istrinya gelisah menanti hukuman akibat ulah anak mereka.
“Setelah dipertimbangkan dengan masak-masak, nama kampung kita adalah ....,” sambung tokoh itu sambil memandang Ki Agus Sulaiman. Ayah dan Ibu Ki Agus Sulaiman semakin waswas. “Nama kampung kita adalah Sukadana, sambung tokoh itu kembali.
            Orang-orang pun hening mendengarkan keputusan nama kampung mereka. Lalu, tokoh itu memberikan alasan kenapa mereka memilih nama Suka-dana yang terdiri dari dua kata, yaitu karena Ki Agus Sulaiman. Ia mengatakan bahwa perbuatan Agus yang suka menghibur orang dan memberikan uang kepada orang lain adalah perbuatan yang sangat baik. “Oleh karena itu,” kata pemimpin itu, nama kampung ini kita ambil dari sifat baik Nak Agus.”
            Semua yang hadir tercengang. Mereka minta restu dari Ki Agus Sulaiman. Tentu saja Ki Agus Sulaiman merestuinya. Ia tidak menyangka, gara-gara menyanyi di balai pertemuan dapat memberi keputusan nama kampungnya.
            Sejak saat itu, kampung Ki Agus Sulaiman disebut Sukadana Ki Agus Sulaiman menjadi tokoh masyarakat.

B.       Mengidentifikasi Asal-Usul Sukadana
Kenapa asal-usul Sukadana ini termasuk kedalam bentuk karya sastra prosa lama, berupa legenda karena legenda merupakan cerita lama yang mengisahkan tentang riwayat terjadinya suatu tempat atau wilayah. Dan juga belum mendapat pengaruh dari sastra atau kebudayaan barat karya sastra,  prosa lama yang mula-mula timbul disampaikan secara lisan, dan diwariskan secara turun-menurun oleh masyarakat sekitar, hal ini disebabkan karena belum dikenalnya bentuk tulisan. Setelah agama dan kebudayaan islam masuk ke Indonesia, masyarkat menjadi akrab dengan tilisan, bentuk tulisan pun mulai banyak dikenal.



BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
            Tidak dapat diingkari lagi, cerita rakyat ini adalah karena menyangkut asal-usul kota Sukadana, yang sekarang menjadi ibu kota kecamatan Sukadana. Masyarakat di Sukadana banyak yang berasal dari Palembang. Kota ini sekaligus sebagai asal-usul nyanyian pemuda-pemuda di Sukadana yang suka bernyanyi dengan rebana.
B.     Saran
Sebaiknya seluruh warga masyarakat di daerah mana pun itu wajib mengetahui asal usul daerah tempat kelahirannya. Dan alangkah lebih baiknya lagi kalau kita tahu cerita asal usul dari daerah manapun itu karena tidak rugi kalau mendapatkan pengetahuan itu. Dengan demikian kita bisa berbagi cerita kepada daerah orang lain mengenai asal usul di daerah kita sendiri.


DAFTAR PUSTAKA
Sumber : Prahara, Naim Emel. Buku cerita rakyat dari Lampung. Jakarta: Grasindo.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar